INI KISAH NYATA,WANITA WAJIB BACA,,,,,!!!

HijabKisah nyata ini bersumber dari Ustadzah Mahanani Rahayu,selaku pemateri pada saat KAMUS (Kajian Kemuslimahan) di Kesekretariatan UKMI UNWIDHA Klaten pada  hari Jumat, 22 Februari 2013. Ustadzah Mahanani Rahayu adalah pengasuh  di  SMPIT HIDAYAH KLATEN.

Disela-sela menyampaikan materi kajian,beliau menceritakan awal mula percakapannya dengan salah satu siswanya.

Bismillaah…                                                                                                                             14 Feb 2013, ba’da asar di kelas 9,
Wildan : Bu, pernah rebonding?
Bu guru : belum..
Wildan : Rebonding boleh to bu?
Bu guru : hemmm… menurut ibu, kalau niat benar Insya Alloh boleh, misalnya saya rebonding dengan niat untuk disayang suami…
Wildan : Saya punya cerita bu… jadi pembantu saya itu punya saudara, saudaranya tsb meninggal, selang beberapa hari ada keluarga yang ingat kalau jenazah masih pakai cincin, (pas dikebumikan lupa kalau ternyata masih ada cincin yang dipake’nya), ya sudah trus diambil lagi dengan membongkar kuburan tsb…. dan tau bu apa yang terjadi?….
Bu guru : apa?? mayat hidup lagi?
Wildan : Bukan, jadi mayatnya itu tho… rambutnya berdiri, berubah jadi kawat hitam bu….
Bu guru : Ya Alloh… bener mas? apa hubungannya dengan rebonding?
Wildan : lha yang meninggal itu suka rebonding bu…
Bu guru : hemmm…. mungkin juga tidak menutup aurat ya? tidak berjilbab…. Na’udzubillah…

“…..,dan aku (syaithan) akan menyuruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu mereka benar-benar mengubahnya”. (QS. An-Nisaa`: 119).                                 Wallahu a’lam                                                                                                                                                                                                                                                                             Baca ini juga yuk… Semoga Bermanfa’at…                             http://mhmgatsu.wordpress.com/2013/01/03/hukum-rebonding-dalam-islam/

Syuro’ Adalah Salah Satu Bukti Kemuliaan Islam

 

GambarSyuro’

(salah satu bukti kemuliaan Islam) 

 

Islam datang kepada alam semesta membawa cahaya yang menerangi tatkala alam semesta diselimuti oleh kegelapan jaman, hingga akhirnya mulailah manusia mengenal kembali peradaban yang benar untuk kehidupan manusia dan alam semesta. Dengan segala ketentuan-ketentuan hukum,pergaulan, dan kemuliaan dalam ajaran islam maka kembali dunia menemukan peradabannya yang hilang. Dan dengan atau tanpa kita sadari sebenarnya Islam adalah agama yang paling banyak aturan-aturannya, baik itu tentang hubungan kepada Alloh,kepada alam maupun kepada manusia itu sendiri. Salah satu tanda kemuliaan Islam itu adalah bahwa di dalam islam terdapat satu sistim yaitu SYURO’. Dalam sistim ini tidak ada namanya yang mayoritas menang ataupun yang minoritas menang. Karna pada dasarnya yang menang adalah keseluruhan. Maka perlu pengetahuan yang mendalam tentang syuro’ agar tercapai tujuan dan perwujudan syuro’ seperti yang dicontohkan dan diajarkan Rosululloh dan dengan cara yang diajarkan Rosululloh.

 

  1. A.    Pengertian Syuro’

 

Syuro’ ialah mengeluarkan berbagai pendapat tentang suatu masalah untuk dikaji dan diketahui berbagai aspeknya sehingga dapat dicapai kebaikan dan menghindari kesalahan. Pengarang Al-Muj’am Al-Wasith berkata: ”Memusyawarahkan sesuatu artinya mengemukakannya untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan yang terdapat didalamnya.” Pengertian ini ditunjukkan oleh Suyuthi pada firman Allah:”…Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (Ali Imran:159). Yakni: mintalah pendapat-pendapat mereka.

 

Makna syuro’ menurut bahasa adalah memintakeluarkan. Syuro’ menurut bahasa juga berarti menguji sesuatu untuk mengetahui ikhwalnya. Kata syuro’ sudah menjadi Bahasa Indonesia yang artinya musyawarah. Musyawarah adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah bersama. Musyawarah juga dapat berarti meminta pendapat dari para ahli tentang suatu masalah; juga dapat berarti meminta penjelasan memahami dan menguji segi-segi suatu permasalahan dengan bantuan pendapat orang lain. Pengarang al-Munjid menyimpulkan: Majelis Syuro’ adalah majelis yang dibentuk untuk membahas urusan-urusan negara.

 

B. Urgensi Syuro’ dalam Islam

 

· Salah satu prinsip penting dalam ajaran Islam yang sangat ditekankan Allah Swt.

 

· Prinsip jalan tengah dari segala perbedaan pendapat, yakni prinsip keseimbangan antara kehendak individu dengan kehendak bersama/jamaah, maka dalam syuro’ tidak boleh yang namanya memperjuangkan pendapat individu/golongan, yang benar adalah memperjuangkan apa yang benar menurut nash-nash Al-qur’an dan sunnah.

 

C. Hukum Syuro’

 

Para ulama telah bersepakat bahwa hukum syuro’ adalah wajib atas penguasa umat Islam di setiap zaman dan tempat. Mengenai hal ini Al Qurthubi mengutip perkataan Ibnu ‘Athiyah, ”Syuro’ termasuk salah satu kaidah syarat dan dasar hukum. Barang siapa tidak bermusyawarah kepada ahli ilmu dan agama, maka ia wajib dipecat. Hal ini tidak ada yang memperselisihkannya.” Ustadz Sayyid Quthb ketika menafsirkan ayat “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu”,berkata : “Ini adalah nash yang tegas dan tidak boleh diragukan lagi oleh umat Islam, bahwa syuro’ adalah dasar asasi bagi tegaknya system pemerintahan Islam. Islam tidak boleh tegak kecuali di atas prinsip ini.”

 

Terlepas dari itu semua, ada satu hal mengenai syuro’ yang diperselisihkan oleh para ulama, yakni: Apakah syuro’ ini wajib atau sunnah bagi Nabi SAW,karena beliau mendapatkan wahyu dari Allah sehingga tidak lagi memerlukan syuro’?. Mengenai hal ini Ibnu Mulqan berpendapat’ “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (Ali Imran:159). Pendapat ini ditentang oleh Ar-Razi, yang kemudian mengutip perkataan Imam Syafi’i: “Sesungguhnya perintah dalam firman Allah: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” dapat diartikan sebagai sunnat.”

 

D. Landasan Hukum Syuro’

 

· Pertama, Musyawarah terhadap persoalan keluarga Q.S.2:233.

 

· Kedua, Musyawarah terhadap persoalan–persoalan masyarakat. Q.S.42:38.

 

· Ketiga, Musyawarah terhadap persoalan politik, perjuangan, dakwah dan kenegaraan. Q.S.3:159

 

E. Dalil Wajibnya Penguasa Melaksanakan Syuro’

 

Wajibnya seorang penguasa Muslim melaksanakan prinsip syuro’ ini dikuatkan oleh beberapa dalil berikut:

 

a. Firman Allah: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…” (Ali Imran:159).

 

b. Aplikasi Rasulullah Saw terhadap prinsip ini dan para khalifah sesudahnya yang mengikutinya.

 

c. Karena Allah menjadikan prinsip ini sebagai sifat setiap Muslim dalam segala urusannya. Firman Allah: “…dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka.” (Asy Syura:38)

 

d. Karena syuro’ merupkan jalan menuju penyelamatan pendapat dari kesalahan, disamping merupakan penyempurnaan bagi kekurangan manusiawi, berfungsi sebagai penyeleksi setiap pendapat yang masuk.

 

e. Karena syuro’ dapat mencegah terjadinya kesewenang-wenangan penguasa dalam menerapkan hukum.

 

f. Kesepakatan para mufassir bahwa syuro’ akan menimbulkan kesan yang baik dan kelembutan pada jiwa yang mengajak bermusyawarah. Dan ini menjadikan umat saling bersatu dan berpegang teguh.

 

g. Syuro’ menjadi wajib karena kita sekarang hidup di zaman lahirnya berbagai spesialisasi, di mana tiap spesialisasi tidak mengetahui bidang di luar spesialisasinya. Karena itu harus diadakan musyawarah dengan tiap-tiap spesialis yang membidangi berbagai urusan kaum muslimin.

 

F. Syuro’ Pada Masa Rasulullah dan Para Sahabat

 

Syuro’ telah menjadi kebiasaan Rasulullah Saw setiap kali menghadapi urusan penting. Hadist Rasulullah Saw yang diriwayatkan Tarmidzi dari Abu Hurairoh Ra memberi kesaksian hal ini.

 

“Dari Abu Hurairoh: “Aku (Abu Hurairoh) tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya kecuali Rasulullah Saw.”

 

Perang dan jihad adalah masalah yang banyak menuntut diadakannya syuro’, tercatat Rasulullah Saw mengadakan syuro’ dalam perang Badr Kubra, Khandaq, Hudaibiyah.

 

Pada masa dua khalifah setelah Rasulullah Saw (Abu Bakar Ra dan Umar Ra) mekanisme syuro’ tetap di laksanakan. Pemilihan khalifah Abu Bakar sebagai khalifah tercatat menjadi peristiwa besar pertama yang merupakan hasil dari mekanisme syuro’.

 

Pada masa Umar Bin Khattab Ra, mekanisme syuro’ tetap mendapat tempat utama sebagai wasilah untuk menemukan solusi dari permasalahan-permasalahan yang sulit. Pada akhir kepemimpinananyapun Umar Bin Khattab Ra tetap menginginkan penetapan kepemimpinan umat melalui mekanisme syuro’. Hal ini terlihat dari wasiat Umar bahwa urusan khalifah sesudahnya supaya di musyawarahkan diantara enam orang dari para tokoh muslim (Utsman, Ali, Thalhah, Zubair, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf).

 

G. Kaidah-kaidah Syuro’

 

. Sesuai yang diajarkan Rosul dan sahabat

 

· Berlaku lemah lembut

 

· Memberi maaf atas hal-hal buruk yang dilakukan sebelumnya atau pada orang yang bermusyawarah

 

· Berorientasi pada kebenaran

 

· Memohon ampun bila melakukan kesalahan

 

· Bertawakal kepada Allah Swt.

 

. Tidak fanatik terhadap pendapat individu

 

. Memperhatikan pendapat orang lain

 

H. Hikmah Syuro’

 

· Keputusan yang akan diambil akan lebih sempurna dibanding tanpa musyawarah

 

· Masing–masing orang merasa terikat terhadap keputusan musyawarah sehingga ada rasa memiliki terhadap isi keputusan musyawarah tersebut dan dapat mempertanggung jawabkannya secara bersama-sama

 

· Memperkokoh hubungan persaudaraan dengan sesama muslim

 

· Dapat dihindari terjadinya dominasi mayoritas dan tirani minoritas

 

· Dapat dihindari adanya hasutan, fitnah dan adu domba yang dapat memecah belah barisan perjuangan kaum muslimin.

 

I. Penutup

 

Dalam konteks harokah da’wah, syuro’ menjadi sarana untuk mengoptimalisasi akal kolektif dan mewadahi dinamika dan kebebasan ijtihad sekaligus mengendalikan proses dan dampaknya. Syuro’ juga memainkan peran strategis dalam mempercepat pendewasaan harokah. Untuk memaksimalkan fungsi dan peran syuro’ perlu dikembangkan beberapa hal:

 

1. Harus ada keikhlasan dan nuansa spiritual yang kental sehingga setiap orang merasa bahwa pendapat-pendapatnya akan mempengaruhi kehidupan orang lain.

 

2. Harus ada semangat kebebasan dan kesetaraan yang memungkinkan setiap orang berpendapat tanpa rasa sungkan atau segan dengan seseorang yang lain.

 

3. Harus ada tradisi ilmiah yang kokoh, dimana kesantunan, rasionalitas, dan metedologi serta data empiris dijunjung tinggi diatas segalanya.

 

4. Harus ada kelapangan dada yang memadai untuk dapat menampung berbagai perbeadaan pendapat, sehingga keragaman menjadi sumber dinamika dan pertumbuhan, bukan malah jadi sumber konflik dan perpecahan.

 

5. Harus ada manajemen waktu yang efektif untuk menjamin bahwa setiap masalah mendapat jatah waktu layak untuk pembahasan, dan setiap orang mendapat kesemapatan cukup untuk menyampaikan pikiran-pikirannya.

 

6. Harus ada semangat intropeksi yang cukup untuk menjamin kita tetap objektif memandang diri kita sendiri, tidak terjerumus dalam pengkambinghitaman, fitnah, dan konflik antar individu.

 

7. Harus ada sikap natural yang wajar dalam memandang kesalahan-kesalahan yang kita lakukan sendiri.

 

8. Harus ada sikap yang proporsional terhadap tafsir konspirasi.

 

9. Harus ada pandangan masa depan yang visoner karena keputusan-keputusan kita hari ini merupakan input yang output-nya akan muncul beberapa tahun kemudian.

 

10. Harus terbebas dari pengaruh/tendensi dari luar majlis syuro’ baik individu maupun golongan.

 

            Kurangnya pemahaman umat islam tentang pengertian daripada syuro’ tak jarang menimbulkan berbagai persoalan baru dalam pengambilan keputusan, sehingga cenderung yang di perjuangkan adalah pendapat individu maupun golongan, Dalam syuro’ yang benar adalah memperjuangkan apa yang ada dalam nash-nash Al-qur’an dan sunnah Rosul. Dalam majlis syuro’ sangat diperlukan kedewasaan individu maupun golongan,dan juga sikap netral (tidak ada pengaruh/tendensi dari luar) agar setiap pendapat dari masing-masing anggota syuro’ bisa dijadikan pertimbangan sehingga syuro’ akan kembali kepada keputusan yang murni berdasarkan hasil musyawarah yang berlandaskan Sunnah dan beratapkan Al-qur’an, juga semua pihak memerlukan pendewasaan dan pemahaman hukum-hukum syuro’ sehingga tercapai tujuan dengan Iman, dan syuro’ kembali menjadi bukti kemuliaan Islam karena hasil keputusan majlis syuro’ jauh lebih mendekati kebenaran daripada hasil keputusan individu/golongan.

 

# Berikut salah satu contoh keteladanan Rosululloh dalam menjalankan syuro’ :

 

●Perang Badar

 

Ketika pasukan sudah sampai di lembah Badar maka Rosululloh memerintahkan pasukan muslim untuk berhenti dan menjadikan tempat itu sebagai pusat komando umat muslim. Kemudian salah satu sahabat bertanya “ya Rosul apakah ini strategimu atau perintah Alloh??” Rosul menjawab “ini strategiku” maka sahabat tadi berkata “adapun pendapatku wahai Rosul,lebih baik kita terus maju dan menjadikan komando pasukan di dekat sumur badar itu, kita akan lebih mudah menguasai jalannya perang”. Maka Rosulpun mengubah strateginya dan menuruti pendapat sahabat tadi.

 

            Dan masih banyak lagi contoh keteladanan Rosululloh ketika mengadakan syuro’ dengan para sahabat. Baik dalam Perang uhud,perang khondak dan dalam semua aspek kehidupan. Rosululloh tidak pernah memaksakan pendapatnya ketika dalam bermusyawarah. Duhai betapa indah akhlakmu wahai teladan.

 

Harapan saya sedikit tulisan ini bisa kembali mengingatkan diri saya sendiri dan semua bahwa Islam adalah sempurna dengan segala aturan-aturannya. Benar datang dari Alloh Salah dari kebodohan saya pribadi, bila ada salah mohon maaf dan Semoga bermanfaat.

 

 

( Akh. Abas )

 

Referensi:

 

1. Menuju Jama’atul Muslimin, Hussain bin Muhammad bi Ali Jabir,MA, Robbani Press Jakarta; Agustus 2002.

 

2. Dari Gerakan Ke Negara, H.M. Anis Matta,Lc, Fitrah Rabbani Jakarta; Maret 2006

 

*Kejujuran ditengah krisis kepercayaan *

jujur_disayang_allah_b1Suatu ketika, ada salah seorang guru yang bercerita didepan kelas. Guru itu menceritakan tentang salah seorang temannya yang pernah “curhat” kepada beliau tentang bisnisnya. Temannya menjelaskan bahwa sekarang ini sulit mencari karyawan yang jujur.

Lain lagi suara-suara yang terdengar diantara rakyat yang merasa terluka.  Sulit baginya untuk percaya pada para pengemban amanah dikursi empuk sana. Sulit mengidentifikasi mana yang dusta dan mana yang jujur  ketika berbicara.

Sahabat….. banyak orang yang menuntut agar orang lain bisa jujur kepadanya. Banyak orang kecewa/sakit hati ketika ia merasa dikhianati/dibohongi. Merasa termasuk didalamnya?  Itu wajar kok…

Sudah menjadi sifat alami manusia bahwa ia ingin diperlakukan dengan baik dan mendapatkan yang terbaik. Tapi terkadang ada yang lupa bahwa bisa jadi apa yang kita terima adalah cermin dari apa yang kita berikan…

Sssttt,, ada satu rahasia umum yang tidak semua orang menyadarinya.  Kadang kita merasa kesal, BT, dan marah ketika dibohongi oleh orang lain. Kita ingin mereka semua bisa jujur. Tapi kenyataannya…. Kita tidak bisa merubah orang lain, namun kita bisa merubah diri kita sendiri.

Yupz, saatnya kita berbahagia menyadari bahwa kelak di pengadilan Allah sana yang akan  kita pertanggungjawabkan bukanlah apa yang orang lakukan terhadap kita,, tapi apa yang kita lakukan terhadap orang lain. Shohih?

Ketika kita sulit menemukan orang yang jujur disekitar kita, bukan berarti kita tidak bisa menjadi orang yang jujur kan? Insya Allah pasti bisa.. MAN JADDA WA JADA!!!

Tinggal sejauh apa niat kita dan seberapa kuat azzam (kemauan/kesungguhan) kita dalam memperbaiki diri untuk menjadi orang yang jujur.

“ tapi kan jadi orang yang jujur itu banyak tantangannya.. apalagi ditengah jaman edan ini. Kata bapakku, jaman edan yen ra edan ra keduman. Hehe….“

Stay calm sahabat,,,, Kepercayaan dijaman ini boleh saja menjadi krisis, tapi jangan sampai keimanan kita turut krisis.. setuju?   (setuju..)

Kalau masalah rizki, bukankah Allah telah membagikannya ketika kita tercipta? Tinggal bagaimana kita mengambil rizki yang telah Allah tebar didunia ini. Tentunya dengan jalan yang Allah ridhoi. Apa iya kita meminta rizki kepada Allah tapi dengan cara yang bisa mendatangkan murka-Nya Allah??? No no no….

Kembali ke masalah “kejujuran” tadi, ternyata kebiasaan kita dalam menjaga diri untuk bisa jujur itu seperti stempel yang tersemat dalam diri kita. Cobalah perhatikan hadits berikut ini.

“dari ibnu Mas’ud ra., dari Nabi saw., beliau bersabda:

‘sesungguhnya kebenaran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis disisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Subhanallaah, luar biasa sekali sahabat….

Betapa tidak, siapa orang mukmin didunia ini yang tidak ingin tercatat disisi Allah dalam kebaikan?  (saya pun sangat mau)

So, mari kita mulai berusaha menjadi lebih baik lagi. Mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini. Karena esok hari itu masih rahasia ilahi dan belum tentu terjadi.

Yang kemarin sudah merasa menjadi orang yang jujur, pertahankanlah. Yang merasa belum, berusahalah. Let’s start with “Bismillaah”… luruskan niat dan kuatkan azzam! Yakinlah bahwa Allah menyaksikan apa yang sedang kita perjuangkan.. every single step!!!

……….ALLAHU AKBAR!!!……….

Wallahu a’lam, Allahu yubarik fik

Salam ukhuwah,

(Muslimah NeverEnd)

Siapa Saudara Kita..??

Alhamdulillah wa syukurillah laa qawla wa laa quwatta illa billah, assholatu wa salamu ala Rosulillah ila yaumul qiyamah. Dalam sebuah ayat, Alloh swt firmankan: “dalikalkitabu laa roibafii” yang artinya “kitab ini (al-qur’an) tidak ada keraguan di dalamnya”. Yang maknanya adalah tidak boleh bagi kita meragukan semua yang terkandung di dalamnya (al-qur’an).

               Siapa saudara kita..??, ketika saya tanyakan kepada sebagian orang, maka sebagian besar dari     mereka memberi jawab : saudaraku adalah mas fajar,mas sasongko,mas lantip,mas broto,mas thoriq,mas  doni,mas asnan, mas bro, dan lain-lain,pokoknya semua yang ada hubungan darah, ya itu saudaraku tercinta mas. Mendengar jawab itu lantas dalam hati saya berkata “terus gue harus bilang wauuww gitu..nggak banget”. karna menurut saya itu adalah jawaban yang (maaf) “standar, nggak keren, kuno lagi”. Tapi ternyata diantara yang saya tanya ada satu yang jawabannya begini : “saudaraku ya semua umat islam mas..”. mendengar jawab itu lantas secepat kilat lisan ini berucap subhanalloh..waauuwww, inilah sebenarnya yang harus menjadi jawaban seorang muslim. Bukan mengada-ada dan tanpa direkayasa, sungguh itu adalah sebuah fakta yang sudah menjadi ketentuan Alloh swt sejak 14 abad yang lalu ketika Alloh swt berfirman : innamal mu’minuuna ikhwatun (al-qur’an surat al hujarat ayat 10). Yang artinya sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara”. Yang maknanya bahwa semua umat islam adalah saudara, semua umat islam adalah satu kesatuan, tidak ada perbedaan, karena Alloh swt telah katakan “sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara”. Ya.. semua umat islam adalah saudara kita, Masih terdengar biasa..??, baiklah mari kita kaji supaya kita bisa memahami makna mulia yang ada di dalam ayat ini.

Ada rahasia besar kenapa Alloh menggunakan kata ikhwatun dalam ayat ini, seperti yang kita ketahui bahwa bahasa arab adalah bahasa yang banyak kosakatanya, dan setiap kosakata maknanya adalah berbeda-beda, lantas kenapa Alloh gunakan kata ikhwatun..??, jadi dalam bahasa arab ternyata ada tiga tingkatan persaudaraan yang berlaku, yang pertama sohiibun, kedua zamiilun dan yang ketiga adalah yang kita bicarakan yaitu ikhwatun.

  1. 1.      Sohiibun

Dalam bahasa arab, Sohiibun adalah tingkatan persaudaraan yang paling rendah, bisa kita katakan dalam istilah kita mungkin hanya sebatas kenal, tanpa ada sesuatu yang menjadikan istimewa.

  1. 2.      Zamiilun

Sedangkan Zamiilun adalah tingkatan persaudaraan yang lebih tinggi sedikit dari sohiibun, jadi persaudaraan ini tidak hanya saling kenal akan tetapi lebih sedikit akrab daripada yang pertama.bisa dikatakan kalau mereka ketemu masih suka ngobrol dan sebagainya.

  1. 3.      Ikhwatun

Adapun yang ketiga yaitu Ikhwatun, adalah tingkatan persaudaraan yang paling tinggi dan yang paling mulia. Orang yang bersaudara seperti ini maka dia mencintai saudaranya setulus hati, bahagianya adalah bahagia saudaranya, duka saudaranya adalah dukanya, kebaikan bagi saudaranya adalah kebaikan baginya juga, bahkan hartanya adalah harta saudaranya juga. Dalam surat Al israa’ ayat 27 Alloh juga menggunakan kata ikhwah yang maknanya adalah saudara, “inna mubadziriina kanu ikhwana sayatini (sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudaranya syaithon)”. Masih adakah yang suka boros setelah mengetahui ayat ini..??

Inilah kita umat islam, ikhwatun (bersaudara) , yang artinya semua umat islam adalah saudara kita, bukan hanya kakak-kakak kita, adik-adik kita dan keponakan-keponakan kita yang Alloh jadikan saudara bagi kita, akan tetapi saudara kita adalah semua umat islam di seluruh dunia. Dan lebih indah lagi Alloh telah tentukan kepada kita, Alloh telah pilihkan kepada kita sebuah persaudaraan yang terbaik, yaitu bahwa kita adalah ikhwatun, kita  bersaudara dengan tingkatan persaudaraan yang paling tinggi dan yang paling mulia. Maha benar Alloh dengan segala firmanNYA.

        Adakah orang yang bersaudara seperti itu (ikhwatun)..??, jawabannya ada. Mari kita mengingat sedikit dari sekian banyak kisah-kisah para sahabat nabi Muhammad saw, Ali bin Abi Tholib misalnya, dia rela tidur di tempat tidur Rosululloh padahal malam itu dia tahu bahwa nyawanya terancam akan melayang jika menggantikan tidurnya Rosululloh, karna malam itu orang-orang kafir berencana membunuh Nabi Muhammad saw di rumah beliau. Demikian pula Abu Bakar As shiddiq yang kala itu di gua Hira’, dan seekor kalajengking pun akhirnya menyengat dirinya, sakit..?? iya pasti, akan tetapi dia tahan sakitnya itu, dia tidak bergerak sama sekali. Kenapa..?? karna sang Nabi sedang tertidur pulas di pangkuannya, dia tahan seluruh rasa sakit itu dengan segenap kekuatannya karna dia tidak mau kalau sampai sang Nabi terbangun dari pangkuannya, Subhanalloh. Atau bisa kita lihat Umar Bin Khattab ketika dia hijrah ke madinah, ditengah perjalanan dia bersama seorang sahabat, Abdullah namanya. Hingga suatu waktu salah seorang kerabat Abdullah yang masih kafir saat itu menyusul mereka berdua, dia hendak mengajak pulang Abdullah dan meminta agar Abdullah keluar dari Islam. Umar katakan “jangan kau turuti wahai abdullah”, lantas si kerabatnya Abdullah berkata “wahai umar berani sekali kau mencampuri urusan antar saudara”, dengan tenang Umar berikan jawaban “dia adalah saudaraku juga”, kemudian Abdullah menambahi “dan Umar adalah saudaraku melebihi kamu”. Allohuakbar..dan masih teramat banyak kisah-kisah yang lain yang mampu menggetarkan hati. sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara. Tidak usah heran dengan berbagai kisah indah mereka, karna itu adalah persaudaraan yang beralaskan iman dan beratapkan firman, dan kita pun bisa lakukan insha’alloh.

         Lantas apa yang kita lakukan terhadap saudara-saudara kita saat ini..?? tanyakan kepada hati kita dan jawab dengan segenap ketulusannya. Apa yang kita lakukan kepada kedua orang tua kita, kepada kakak kita, adik kita, tetangga dekat kita, tetangga jauh kita selama ini, bukankah kita sudah tahu bahwa semua umat islam adalah bersaudara..??

         Dimana kita ketika saudara-saudara kita membutuhkan pertolongan, dimana kita ketika saudara-saudara kita kelaparan, dimana kita ketika saudara-saudara kita seantero nusantara bermalam berteman air hujan. Dimana kita ketika saudara-saudara kita di PALESTINA, SURIAH, ROHINGYA, MESIR, mereka di siksa, di hina, dibunuh dan diusir..!! dimanakah kita sebagai saudaranya..?? demi Alloh mereka adalah saudara kita seperti yang telah dikatakan Alloh “sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara”, sungguh malu sekali diri ini ketika melihat kenyataan bahwa saudara-saudara kita menderita di luar sana sementara kita merasa hanya bisa diam saja. Bahkan sejuta alasanpun kita utarakan ketika melihat kenyataan yang demikian menyakitkan, ketika membaca tulisan inipun hati kita bergumam memendam seribu alasan.. aku sibuk kuliah, aku sibuk kerja, aku sibuk belanja dan aku sibuk bermewah-mewah. Untuk melakukan sedikit kebaikan saja kita masih berfikir sangat panjang, misalnya penggalangan dana yang jelas-jelas mereka butuhkan, apakah kita hanya diam ketika saudara-saudara kita teraniaya, akan tetapi berbeda ketika kemaksiatan yang ada dihadapan maka secepat kilat kita lakukan. Di dunia ini kita memang masih bisa beralasan teman, tapi nanti di akhirat pertanyaan yang kan kita dapat “apa yang kau lakukan ketika dulu saudara-saudaramu dihinakan..??”, sungguh tiada keraguan bahwa semua perbuatan akan ditanyakan, dan celakanya di akhirat nanti kita takkan bisa beralasan, karna pada hari itu anggota badan yang akan memberi kesaksian..  “pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.(al-qur’an surat an nuur ayat 24).

Innamal mu’minuuna ikhwatun, sesungguhnya orang-orang mu’min itu bersaudara. Tibalah sudah saatnya bagi kita untuk bersaudara dengan persaudaraan yang terbaik seperti yang telah Alloh swt perintahkan dan seperti yang Roululloh ajarkan. Tebarkan salam, budayakan senyuman, salinglah berjabat tangan, saling memberi hadiahlah kalian, itulah sebagian yang diajarkan agar supaya menjadi kuatlah persaudaraan. Sungguh semua itu bisa kita wujudkan ketika Al-qur’an dan sunnah menjadi pegangan, karna apabila Alloh dan Rosul berkata “IYA”, maka its enough, cukuplah sudah, pasti akan bisa kita lakukan insha’alloh, mari tangan saling berjabat karna kita adalah sahabat. Telah datang masanya bagi kita umat islam untuk bersatu dalam sebuah wadah persaudaraan yang indah bernama ukhuwah islamiyah. Alhamdulillah telah kusampaikan sedikit ilmu yang diamanahkan Alloh, Selanjutnya aku katakan kepada kalian bahwasanya aku mencintai kalian karna Alloh, dan aku ikrarkan bahwa aku aadalah saudara kalian, maka terimalah persaudaraanku. Jika ada kesalahan dalam penulisan mohon dimaafkan jika ada kekurangan mohon ditambahkan dan jikalau ada senyuman mari kita bagikan. Wallahua’lam bisshowab semoga bermanfaat.

(  Abas )